Pulau Peucang, Pintu Masuk ke Belantara Ujung Kulon
Di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Banten, terdapat kawasan hutan hujan dataran rendah terluas yang tersisa di pulau ini. slot gacor Taman Nasional Ujung Kulon menyimpan hutan primer, padang penggembalaan, dan perairan dengan terumbu karang yang masih sehat. Bagi kebanyakan pengunjung, gerbang menuju kawasan ini adalah Pulau Peucang, sebuah pulau kecil di sisi barat laut semenanjung yang jadi basis untuk menjelajah lebih jauh.
Cara Menuju Peucang
Perjalanan biasanya dimulai dari Jakarta atau Serang menuju Desa Sumur atau Tamanjaya di Pandeglang, memakan waktu sekitar enam sampai delapan jam berkendara. Dari sana, penyeberangan dilanjutkan dengan kapal kayu selama tiga sampai empat jam menyusuri perairan Selat Sunda.
Sepanjang perjalanan laut, Gunung Anak Krakatau kadang terlihat di kejauhan pada hari yang cerah. Kapal juga sering melewati kawanan lumba-lumba yang muncul di permukaan, terutama pada pagi hari.
Kondisi Pulau
Peucang punya pantai berpasir putih dengan air jernih dan area dangkal yang cukup luas. Di belakang pantai, hutan tumbuh rapat sampai ke tepi, dengan pohon-pohon besar yang akarnya menjalar ke permukaan.
Di pulau ini terdapat penginapan yang dikelola pihak taman nasional, dengan kapasitas terbatas dan fasilitas sederhana. Listrik biasanya hanya menyala pada jam-jam tertentu menggunakan generator, dan sinyal telepon nyaris tidak ada.
Satwa yang Berkeliaran Bebas
Salah satu hal yang paling mengesankan di Peucang adalah kehadiran satwa di sekitar area penginapan. Rusa timor berkeliaran bebas di lapangan rumput, babi hutan mencari makan di sekitar pepohonan, dan monyet ekor panjang bergerak dari dahan ke dahan.
Satwa-satwa ini sudah terbiasa dengan kehadiran manusia dan tidak takut mendekat. Karena itu, menyimpan makanan dengan rapat dan menutup pintu kamar jadi kebiasaan yang harus dijaga. Monyet di Peucang cukup terampil membuka tas yang ditinggal tanpa pengawasan.
Karang Copong dan Jalur Hutan
Di sisi utara pulau ada Karang Copong, formasi batu karang besar berlubang yang menghadap laut lepas. Untuk mencapainya perlu berjalan kaki menembus hutan sekitar satu jam lewat jalur setapak yang cukup jelas.
Perjalanan menuju Karang Copong sendiri sudah jadi pengalaman tersendiri. Jalur melewati pohon-pohon raksasa dengan akar banir yang tingginya melebihi kepala orang dewasa, serta suara burung dan serangga yang terdengar terus menerus. Menjelang sore, tempat ini jadi titik favorit untuk melihat matahari terbenam.
Menjelajah ke Semenanjung
Peucang berfungsi sebagai basis untuk menjelajah bagian lain Ujung Kulon. Dari sini, perahu bisa menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon yang berada tepat di seberang. Di padang terbuka itu, banteng jawa dan merak sering terlihat pada pagi atau sore hari, diamati dari menara pandang yang tersedia.
Tujuan lain yang umum adalah Cibom, Tanjung Layar dengan sisa mercusuar tua, dan Sungai Cigenter yang bisa disusuri dengan kano di antara vegetasi rapat. Di kawasan semenanjung inilah badak jawa masih hidup, meski peluang melihatnya secara langsung praktis nyaris nol karena jumlahnya sedikit dan habitatnya tertutup untuk umum.
Kegiatan di Perairan
Snorkeling jadi kegiatan yang banyak dilakukan di sekitar Peucang. Beberapa titik dengan terumbu karang berada tidak jauh dari pantai dan bisa dijangkau dengan berenang atau perahu kecil.
Kondisi air paling jernih biasanya terjadi di musim kemarau. Saat musim angin barat, gelombang di Selat Sunda naik dan penyeberangan sering dibatalkan, sehingga periode antara April sampai Oktober jadi waktu yang paling banyak dipilih.
Penutup
Pulau Peucang memberi kesempatan langka untuk berada sangat dekat dengan hutan hujan yang masih utuh sekaligus laut yang jernih dalam satu lokasi. Rusa yang berjalan santai di depan penginapan, hutan tua dengan pohon-pohon raksasa, dan pemandangan matahari terbenam dari batu karang adalah gambaran yang sulit ditemukan di tempat lain di Jawa. Sebagai bagian dari Ujung Kulon, kawasan ini juga menyimpan peran penting sebagai benteng terakhir bagi salah satu mamalia paling langka di dunia.